Biografi Sunan Ampel dan Perannya Terhadap Penyebaran Agama Islam

Klik iklan untuk donasi

Sunan Ampel menjadi salah satu tokoh kunci  yang memiliki peran sentral dalam mengukir jejak peradaban keislaman di Indonesia. Kisah hidupnya yang penuh dengan dedikasi, kearifan, dan ketulusan telah menjadikannya bukan hanya sebagai seorang ulama, tetapi juga sebagai sosok yang menggambarkan inklusivitas Islam dalam mengakomodasi kearifan lokal.

Dalam artikel ini, kita akan mengulas secara mendalam tentang Sunan Ampel dalam perjalanan penyebaran ajaran Islam di tanah air. Yuk, simak dengan seksama!

Mengenal Sunan Ampel

Sunan Ampel atau dikenal juga sebagai Raden Rahmat, merupakan anak sulung dari Maulana Malik Ibrahim. Ketika masih muda, ia lebih dikenal dengan nama Raden Rahmat. Kelahiran Sunan Ampel pada tahun 1401 M di Campa dan diperkirakan meninggal dunia pada tahun 1841 di Demak. Makam beliau terletak di bagian barat Masjid Ampel, yang terletak di Kota Surabaya.

Sebagai catatan sebelumnya, dalam masa kecilnya, Sunan Ampel lebih sering dikenal dengan nama Raden Rahmat. Penggunaan nama ‘Ampel’ lebih merujuk pada lokasi tempat tinggalnya, yakni daerah Ampel atau Ampel Denta, yang saat ini telah menjadi bagian dari Kota Surabaya.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa Sunan Ampel memasuki Pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama dengan Sayid Ali Murtadho, yang sebenarnya adalah adik dari Sunan Ampel. Sebelum kedatangannya di Pulau Jawa, Sunan Ampel bersama Sayid Ali Murtadho tinggal di Palembang sekitar tahun 1440.

Setelah tinggal di Palembang selama sekitar tiga tahun, mereka kemudian pindah ke daerah Gresik. Lalu, mereka kembali ke wilayah Majapahit untuk menemui bibi dari Sunan Ampel yang merupakan putri dari Campa bernama Dwarawati. Dwarawati sendiri menikah dengan seorang raja Majapahit yang beragama Hindu dengan gelar Prabu Sri Kertawijaya.

Perjalanan Hidup Sunan Ampel

Mirip dengan Sunan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel memiliki kontribusi yang besar terhadap perkembangan Islam di wilayah Jawa. Sebagian kalangan menganggap Sunan Ampel sebagai figur paternal bagi para wali songo. Hal ini karena peran besar Sunan Ampel dalam membentuk para pemimpin spiritual terkemuka di wilayah Jawa.

Ayah Sunan Ampel adalah Sunan Maulana Malik Ibrahim, juga dikenal sebagai Sunan Gresik, yang juga merupakan keturunan dari Syekh Jamaludin Jumadil Kubro, seorang ulama Ahlussunnah bermazhab Syafi’i asal Samarkand, Uzbekistan.

Ibunya adalah Dewi Candrawulan, saudara kandung dari Putri Dwarawati Murdiningrum, ibu dari Raden Patah dan istri dari Prabu Brawijaya V, seorang raja Majapahit.

Sunan Ampel memiliki dua istri, Dewi Karimah dan Dewi Candrawati. Bersama Dewi Karimah, Sunan Ampel memiliki dua anak yakni Dwi Murtasih yang menjadi istri dari Raden Fatah, sultan pertama dari kerajaan Islam Demak Bintoro dan Dewi Murtasimah yang menjadi permaisuri dari Raden Paku atau Sunan Giri.

Peran dalam Penyebaran Islam

Kehidupan Sunan Ampel penuh dengan perjuangan dalam menyebarkan ajaran Islam di Indonesia. Sunan Ampel memiliki dua istri, salah satunya adalah Dewi Chandrawati, yang merupakan putri seorang adipati di wilayah Tuban pada masa itu.

Dengan Dewi Chandrawati, Sunan Ampel memiliki sejumlah putra dan putri, di antaranya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat, yang juga menjadi penerus ajaran Sunan Ampel.

Pada suatu waktu, Sunan Ampel melakukan perjalanan menuju Ampel, memulai perjalanannya dari Trowulan, melewati Desa Krian, Wonokromo, hingga mencapai Desa Kembang Kuning. Setiap tahapan perjalanan yang dilaluinya dimanfaatkannya untuk berdakwah.

Tak hanya itu, Sunan Ampel juga memberikan kipas yang terbuat dari akar tumbuhan kepada penduduk sekitar. Untuk mendapatkan kipas tersebut, masyarakat hanya diminta mengucapkan syahadat.

Dampak dari kegiatan berdakwahnya adalah pertambahan jumlah pengikut Sunan Ampel seiring berjalannya waktu. Sebelum mencapai Ampel, Sunan Ampel telah membangun sebuah langgar atau mushola sederhana di wilayah Kembang Kuning.

Wilayah Kembang Kuning terletak sekitar delapan kilometer dari Ampel. Langgar tersebut berkembang pesat dari yang awalnya sederhana menjadi bangunan yang besar dan megah, yang hingga kini masih berdiri kokoh dengan nama Masjid Rahmat.

Setibanya di Ampel, Sunan Ampel pertama-tama membangun sebuah masjid sebagai pusat ibadah dan tempat untuk berdakwah.

Selanjutnya, beliau mendirikan pesantren yang mengadopsi model dari Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Format pesantren ini dibangun dengan menggunakan konsep biara yang sudah akrab di masyarakat Jawa saat itu.

Awalnya, Sunan Ampel mengajak masyarakat setempat bergabung. Hingga abad ke-15, pesantren yang dibangunnya menjadi pusat pendidikan yang sangat berpengaruh di Nusantara, bahkan hingga mancanegara.

Di antara para santrinya terdapat tokoh terkenal seperti Sunan Giri dan Raden Patah, yang ditugaskan untuk menyebarkan dakwah di berbagai wilayah Jawa dan Madura. Meskipun Sunan Ampel mengikuti Fikih Mazhab Hanafi, ia memberikan pengajaran yang sederhana kepada para santrinya, terutama dalam hal keyakinan dan ibadah.

Sunan Ampel juga memperkenalkan metode Mo Limo yang mengajarkan untuk tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotika, dan tidak berzina.

Metode Dakwah Sunan Ampel

Metode dakwah Sunan Ampel dapat dianggap singkat dan efektif karena menerapkan pendekatan dakwah Moh Limo yang menekankan untuk menjauhi lima perilaku tercela. Filosofi dari metode Moh Limo yang dianut oleh Sunan Ampel dijelaskan sebagai berikut:

  • Moh main, yang berarti tidak berjudi.
  • Moh ngombe, yang berarti tidak mengkonsumsi minuman keras.
  • Moh maling, yang berarti tidak mencuri.
  • Moh madat, yang berarti tidak menggunakan narkotika.
  • Moh madon, yang berarti tidak melakukan perbuatan zina.

Sepanjang hidupnya dan dalam usahanya menyebarkan Islam, Sunan Ampel terkenal akan kemampuannya dalam beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Pendekatannya adalah menerima siapa pun, baik dari kalangan elit maupun masyarakat biasa, yang ingin belajar di pesantren yang dikelolanya.

Meskipun mengikuti Madzhab Hanafiyah, Sunan Ampel tetap menunjukkan toleransi yang tinggi terhadap madzhab lain. Sikap tolerannya ini membantu murid-muridnya memperluas pandangan dan mendapatkan banyak pengikut.

Kesimpulan

Sunan Ampel merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara. Melalui pendekatan yang penuh kasih, pengajaran yang mendalam, dan pendirian pesantren, ia berhasil membawa ajaran Islam ke masyarakat Jawa dan sekitarnya.

Warisannya terus hidup dalam bentuk pesantren dan nilai-nilai kearifan lokal yang terpadu dengan ajaran Islam, memberikan kontribusi yang besar terhadap pembentukan identitas keislaman Indonesia hingga saat ini.

Bagikan Artikel:

Media Partner

Maksimalkan performa Digital Marketing perusahaan anda bersama Amsa Studio – Digital Marketing agency yang telah berpengalaman sejak 2014 dan telah membantu puluhan perusahaan dari dalam hingga luar negeri

Premium Guest Post

Recent Posts

  • All Post
  • Doa
  • Ekonomi
  • Guest Post
  • Haji & Umroh
  • Kisah
  • Sejarah
  • Seni
  • Wawasan

Ikuti Kami

Ikuti kabar terbaru kami

Kamu telah berlangganan! Sepertinya ada yang salah!
Edit Template

Tentang Kami

Al muslim on adalah situs berita seputar dunia islami yang berisikan mulai dari sejarah, wawasan, doa, profil, seni, dan sebagainya.

Postingan Terbaru

  • All Post
  • Doa
  • Ekonomi
  • Guest Post
  • Haji & Umroh
  • Kisah
  • Sejarah
  • Seni
  • Wawasan

© 2023 Developed by Amsa